Ijinkan Aku Meminangnya
Oleh : Rinda
“Zahira... maukah kamu menikah denganku?”
Sosok laki-laki yang hanif diinnya, cakap wajahnya, mapan
kehidupannya, easy going dan
sholeh perawainya. Berada di hadapanku mengatakan hal yang membuat detik seakan
terhenti sebentar. Gerimis turun seketika membasahi pakaian kami di taman ini.
Gerimis yang beraturan, silih berganti turun perlahan dari langit. Seketika itu
pula mulut terasa kaku, terasa begitu sulit mengucapkan sepatah katapun. Raga
seakan tak bisa beranjak untuk berteduh dari gerimis yang turun sebegitu
romantisnya. Detak jantung seakan terpacu lebih cepat dari biasanya. Tak
memperdulikan siapa yang menyaksikannya hingga gerimis terhenti dan spektrum
warna yang berkoordinasi dengan cantik hadir menggantikan gerimis dan masih
dalam suasana sama. Terdiam.
“Bagaimana?”
“A.......Ak.......Aku........”
Byurrrrrrrr........
“Zahira bangun sudah pukul 03.00, ayo tahajud dulu.”
Kebiasaan yang tidak baik. Cenna temanku selalu menggebyurkan
air putih dalam gelas di samping kasur tempat tidurku. Selalu ia lakukan ketika
bangunku tidak mendahuluinya, jadi hampir tiap pagi menjemur bantal untukku
tidur. Dan ternyata hanya mimpi. Mimpi kesekian kalinya dan dengan laki-laki
yang tidak pernah aku berkomunikasi dengannya sebelumnya.
“Cenna... masih ngantuk nih.. hoooaaammmm”
“Atau segelas air mau aku tambahkan lagi”
“Tidakkkkkkkkk... Baiklah, aku segera bangun”
Kuambil air wudhu dan bermunajat kepada Sang Pencipta di keheningan
malam. Seusai sholat tahajud biasanya kami jarang tidur kembali, kadang mengaji
dan aktivitas religius lainnya. Terkadang kami juga suka curhat. Dan kali ini
aku menceritakan kepada Cenna, berkaitan mimpi tadi.
Laki-laki misterius yang belum pernah aku berjumpa dengannya. Entahlah
dia siapa, pertama ia hadir sebagai seseorang yang menyelamatkan hidupku,
kemudian ia hadir sebagai orang yang mengagumiku dan kali ini ia hadir untuk
melamarku. Apa yang terjadi?
“Zahira, mungkin kamu hanya sebatas mimpi, tidak usah kau pikirkan.
Kamu tahu kan, kalau kita tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan maka kita
akan mudah melupakannya.”
“Iya sih Cenn, tapi orang ini aku belum pernah berkomunikasi
dengannya. Masak iya, nongol hampir tiga kali di mimpiku. Apa yang
terjadi dengan pikiranku?”
“Zahira, kamu jangan nge-les mulu.. tetep aja kamu pasti
mikirin tentang dia, sedikit saja pasti ada. Hayo ngaku???”
“Cenn-Cenn-Cenn.... mungkin hanya sekali waktu itu, lihat dia dan
aku berkomentar tentangnya sedikit aja. Udah itu aja.”
“Lha ini yang menyebabkan kamu memimpikan dia, coba deh.. mungkin
pikiranmu tidak menyadari, tetapi hatimu gak bisa bohong, kalau kamu ada
sedikit kekaguman tentangnya dan menimbulkan hadirnya mimpi itu.”
“Mungkin kamu benar Cenn, mungkin akan segera hilang ya setelah ku
ungkap perasaan ini padamu. Makasih my best friend.”
“Sip deh.. dah subuh tuh.... Jama’ah dulu yuukkk”
“Yukk... Mari..”
Usai petang itu, paginya dengan secerah mentari kusambut pagi yang
luar biasa. Dengan hati yang sedikit lega kulangkahkan kaki keluar dari kamar
4x3 menuju kampus hijau tempatku beraktivitas. Sebagai mahasiswa ya inilah kewajibanku,
kuliah. Kusapa tetangga samping kost-kost-an terutama anak-anak kecil yang
bersama-sama jalan denganku menuju sekolah. Setiap pagi ya inilah yang ku suka,
melihat wajah polos anak-anak TK-SD . Senyum dan tawanya lugu.
“Daaa......da...... kalian belajar yang rajin ya?”
TK dan SD tempat mereka belajar cukup dekat dengan kampus tempatku
kuliah, sehingga ibu-ibu kompleks tempat ku kost selalu mempercayai aku untuk
mengantarkan anak-anak mereka sekolah dan sekalian aku jalan menuju kampus.
Lumayan, makan pagi-siang-malam kadang di suplay mereka.. ahaihahai
Brakkkkkkkk
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa........”
Teriakku setelah ada sepeda yang menabrakku dari belakang ketika di
persipangan jalan masuk kampus.
“Mbak... kenapa? Maaf ya mbak. Mbak baik-baik aja kan? Maaf mbak,
tadi ada sedkit kerusakan di rem sepeda motor saya” Kata seseorang yang
mengendarai motor itu.
“Iy...iya gak
papa.....” Sahutku sedikit kesal. Orang itu berkata di belakangku, kemudian aku
tengok kebelakang. Ternyata dia adalah laki-laki dalam mimpi itu. Ketika
melihatnya, sesaat terdiam hampir tidak percaya hingga ada suara klakson mobil
yang memecah keheningan 5 detik itu. Lalu kami menepi di pinggir taman depan
kampus.
“Maaf ya mbak, saya harus segera mengajar. Nanti kalau ada apa-apa
hubungi saya saja [sambil menerahkan kartu nama]”
“Gak papa kok..”
“Baiklah kalau gitu, Assalamu’alaykum”
Rasanya hatiku seperti gado-gado. Ada seneng, ada kesel, ada benci,
dan ada banyak deh. Untung saja tidak terlalu parah lukanya. Hanya memar di
bagian lutut dan butuh beberapa tetes obat merah saja.
“Butuh P3K...? ini mumpung saya dari kantor PMI. Kamu bersihin
lukamu dulu.” Kata seorang perempuan yang berbaik hati membantuku.
“Makasih ya mbak.”
Setelah ku membersihkan luka kemudian segera ke lab untuk kuliah
komputer pagi ini. Sudah telat sih, tapi ya kan kecelakaan. Mungkin ada
tolerir. Segera kumasuki ruang lab dibantu Arsica yang tadi menolongku. Kami
berpisah di depan pintu lab dan kuketuk pintu lab kamudian masuk.
Haaaaa.... ada dia lagi! Orang yang dimimpiku. Hari ini ketemu
lagi. Shock seketika, jatuh pingsanlah diriku. Selain karena sakit, juga
karena terlalu kaget bahwa bertemu dia lagi. Orang yang dimimpiku. Aqsho namanya.
Ternyata dia juga seorang assisten dosen yang membantu praktikum di lab.
Sejenak kemudian aku terbangun, dan Aqsho meminta maaf ketiga
kalinya hari ini. Karena keadaanku yang tidak mendukung. Yunna temanku,
mengantarkan aku ke kost. Hari itu Cenna libur dan kembalilah bercerita tentang
rasa ini dan Aqsho.
Selain bertemu dua kali dengan Aqsho, hari itu ternyata juga
merupakan hari terakhirku melihat Aqsho. Entah mengapa rasa dalam hati ini
begitu merindukan melihatnya, padahal merindukan sesuatu yang tidak halal itu
begitu menyakitkan. Aqsho hadir dalam mimpiku, sehari bertemu dengannya dengan
cepat berlalu saja. Dan sejak saat itu perlahan mulai rontok kerinduan itu,
tetapi ada rasa kuat tertanam. Menancap. Bahkan mengakar kuat.
“Sudahlah Zahira, kamu fokus ke skripsi kamu dulu aja, dari dulu
bab satu aja finishingnya lama bener. Ayo ayo Zahira semangat”
“Baiklah..... [sambil lemes]”
“Hey sist, remember.... Sesuatu hal itu punya hak. Salah
satu hak nya adalah kehadirannya. So.... Dont worry. Kalau dia memang
untukmu lak yo balik”
“Iya deh Cenna... aku nurut kamu aja.”
Waktu itu punya sesuatu. Sesuatu itu punya waktu. Jadi tenang saja.
Akan tetapi rasa menunggu itu pasti menyebalkan. Wajarlah manusia ingin
mendapatkan sesuatu secara segera. Padahal segera itu butuh proses. Jangan
memaksa. Paksaan itu hanya menimbulkan trauma. Let’s enjoy your life.
Perlahan skripsi mulai ku kerjakan, dari bab satu hingga bab-bab
berikutnya. Dan tibalah sidang skripsiku. Hari ini tepat pukul 08.00-10.00,
penguji akan segera melemparkan bom-bom waktu yang jika tidak segera kulempar
kembali maka akan meledak di tempat dudukku.
“Zahira, santai aja. Anggap aja ini seperti ngobrol saja. Oke” Kata
Cenna yang tiga bulan lebih dulu dariku menjalani sidang seperti ini.
“Sip deh.”
Rasa-rasanya berlama-lama di ruangan ini dehidrasipun mudah
mneghampiriku. Dua jam itu tidak sebentar. Apakah terlalu banyak paparanku hingga penguji-penguji ini selalu saja
menemukan celah pertanyaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.05 masih saja
penguji menguras keringatku.
Akhirnya, pukul 10.20 mereka membebaskan aku kemudian memberikan
selamat atas smash-an semua pertanyaan mereka dan nilainya.... A- [3,85]
Subhanalloh. Kutinggalkan ruangan itu, kujumpai Cenna.
“Cenna........ Alhamdulillah aku mendapat nilai A- [3,85],
lebih diatas kamu kan? Hehehe”
“Alhamdulillah..... selamat My lovely sister, Zahira.
Jadi sekarang namanya Zahira Zahra, S.E”
Cenna memelukku sambil mengatakan hal itu.
“Ah Cenna, kamu malah duluan. Avicenna Syifa Avisa, S.E,
hehehehhhe”
Satu bulan kemudian kami wisuda bersama di kampus hijau ini. Cenna
sengaja menunda wisudanya, untuk menungguku. Meskipun dalam masa itu, ia sudah
menikah dengan salah satu aktivis kampus.
***
“Zahira...maukah kamu menikah denganku?”
Detik terulang kembali, terhenti sesaat. Saling terdiam. Gerimis
turun perlahan dan teratur membuat suasana seakan paling indah saja. Jantung
yang masih berdetak dengan ritme yang lebih cepat. Darah mengalir keseluruh
tubuh dengan aliran yang lebih cepat pula. Detik itu terasa berarti. Setelah empat
bulan terakhir melupakannya. Tiba-tiba ia hadir kembali. Membuat detikku
berhenti sesaat lagi. Mengatakan hal yang sama dengan saat itu. Ragaku menjadi
kaku seketika. Gerimis belum mau berhenti dan raga kembali tak kuasa untuk
melangkahkan kaki dari tempat itu. Gerimis juga tak segera mereda, malah
semakin deras saja. Kapan pelangi akan muncul? Aku rindu spektrum warna itu.
Kenapa Cenna tidak segera menumpahkan air di wajahku. Aku tidak mau mengungkap
lara ini kembali. Aqsho hadir kembali setelah kepergiannya empat bulan lalu. Apa
yang terjadi?
“Zahira... maukah kamu menikah denganku?” Ia mengulangi kalimatnya
kembali.
“Zahira... Zahira... kamu melamun? That’s not dream!”
“Ehm.... ehm.....[mengangguk]”
***
“Umi tahu, kenapa dulu Abi pergi menghilang selama empat bulan?”
“Ehm... ehm... [menggeleng]”
“Sebenarnya Abi memiliki rasa merindukan perempuan. Rasa cinta
kepada manusia yang mengkhawatirkan terkotorinya hati Abi. Abi mencintainya dan
ingin meminangnya, tetapi Abi belum mampu untuk melakukannya. Sehingga Abi
pergi dari sini dan menyiapkan jasmani dan rohani agar segera dapat
meminangnya.”
Wajah iri, cemburu, kesal, dan teman-temannya mulai muncul di
wajahku yang telah terlebih dahulu hinggap di hatiku. Kudiamkan Abi ketika
ia terus mendeskripsikan rasa suka
kepada perempuan itu. Entahlah, rasa cemburu terus bergelayut seakan menutup
hatiku. Ataukah karena kecintaanku pada suamiku? Segera kutinggalkan Abi
sendiri di kursi taman rumah kami. Tiba-tiba Abi memberhentikan langkahku
dengan memegang jari-jari tanganku.
“Umi mau kemana? Dengar dulu dong, Abi belum selesai bercerita.”
Tanpa sepatah katapun aku berusaha melepaskan jari-jariku dari
genggaman tangan Abi. Seketika Abi ikut berdiri.
“Umi, Umi mau tau gak siapa perempuan itu?”
Tetap saja aku terdiam ketika Abi berkali-kali melempariku
pertanyaan-pertanyaan.
“Umi... sakit gigi ya? Kenapa gak jawab pertanyaan Abi. Hem... Abi
tahu, pasti Umi cemburu ya....?”
Kalimat-demi kalimat Abi yang suka becanda. Malah semakin membuat hati
ini serasa memuncakkan rasa cemburu itu
“Umi.... sebenarnya dia adalah Za.... Zahira Az Zahra.”
Mendengar kalimat itu serasa cuaca di siang hari yang cukup terik
lalu tiba-tiba hujan deras turun mengguyur dan tiba-tiba terang kemudian
bermunculanlah spektrum warna yang mulai berpadu menghiasi ufuk timur langit
sore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar