Kamis, 03 Januari 2013

CERPEN


Ijinkan Aku Meminangnya
Oleh : Rinda
“Zahira... maukah kamu menikah denganku?”
Sosok laki-laki yang hanif diinnya, cakap wajahnya, mapan kehidupannya, easy  going dan sholeh perawainya. Berada di hadapanku mengatakan hal yang membuat detik seakan terhenti sebentar. Gerimis turun seketika membasahi pakaian kami di taman ini. Gerimis yang beraturan, silih berganti turun perlahan dari langit. Seketika itu pula mulut terasa kaku, terasa begitu sulit mengucapkan sepatah katapun. Raga seakan tak bisa beranjak untuk berteduh dari gerimis yang turun sebegitu romantisnya. Detak jantung seakan terpacu lebih cepat dari biasanya. Tak memperdulikan siapa yang menyaksikannya hingga gerimis terhenti dan spektrum warna yang berkoordinasi dengan cantik hadir menggantikan gerimis dan masih dalam suasana sama. Terdiam.
“Bagaimana?”
“A.......Ak.......Aku........”
Byurrrrrrrr........
“Zahira bangun sudah pukul 03.00, ayo tahajud dulu.”
Kebiasaan yang tidak baik. Cenna temanku selalu menggebyurkan air putih dalam gelas di samping kasur tempat tidurku. Selalu ia lakukan ketika bangunku tidak mendahuluinya, jadi hampir tiap pagi menjemur bantal untukku tidur. Dan ternyata hanya mimpi. Mimpi kesekian kalinya dan dengan laki-laki yang tidak pernah aku berkomunikasi dengannya sebelumnya.
“Cenna... masih ngantuk nih.. hoooaaammmm
“Atau segelas air mau aku tambahkan lagi”
“Tidakkkkkkkkk... Baiklah, aku segera bangun”
Kuambil air wudhu dan bermunajat kepada Sang Pencipta di keheningan malam. Seusai sholat tahajud biasanya kami jarang tidur kembali, kadang mengaji dan aktivitas religius lainnya. Terkadang kami juga suka curhat. Dan kali ini aku menceritakan kepada Cenna, berkaitan mimpi tadi.
Laki-laki misterius yang belum pernah aku berjumpa dengannya. Entahlah dia siapa, pertama ia hadir sebagai seseorang yang menyelamatkan hidupku, kemudian ia hadir sebagai orang yang mengagumiku dan kali ini ia hadir untuk melamarku. Apa yang terjadi?
“Zahira, mungkin kamu hanya sebatas mimpi, tidak usah kau pikirkan. Kamu tahu kan, kalau kita tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan maka kita akan mudah melupakannya.”
“Iya sih Cenn, tapi orang ini aku belum pernah berkomunikasi dengannya. Masak iya, nongol hampir tiga kali di mimpiku. Apa yang terjadi dengan pikiranku?”
“Zahira, kamu jangan nge-les mulu.. tetep aja kamu pasti mikirin tentang dia, sedikit saja pasti ada. Hayo ngaku???”
“Cenn-Cenn-Cenn.... mungkin hanya sekali waktu itu, lihat dia dan aku berkomentar tentangnya sedikit aja. Udah itu aja.”
“Lha ini yang menyebabkan kamu memimpikan dia, coba deh.. mungkin pikiranmu tidak menyadari, tetapi hatimu gak bisa bohong, kalau kamu ada sedikit kekaguman tentangnya dan menimbulkan hadirnya mimpi itu.”
“Mungkin kamu benar Cenn, mungkin akan segera hilang ya setelah ku ungkap perasaan ini padamu. Makasih my best friend.”
“Sip deh.. dah subuh tuh.... Jama’ah dulu yuukkk”
“Yukk... Mari..”
Usai petang itu, paginya dengan secerah mentari kusambut pagi yang luar biasa. Dengan hati yang sedikit lega kulangkahkan kaki keluar dari kamar 4x3 menuju kampus hijau tempatku beraktivitas. Sebagai mahasiswa ya inilah kewajibanku, kuliah. Kusapa tetangga samping kost-kost-an terutama anak-anak kecil yang bersama-sama jalan denganku menuju sekolah. Setiap pagi ya inilah yang ku suka, melihat wajah polos anak-anak TK-SD . Senyum dan tawanya lugu.
“Daaa......da...... kalian belajar yang rajin ya?”
TK dan SD tempat mereka belajar cukup dekat dengan kampus tempatku kuliah, sehingga ibu-ibu kompleks tempat ku kost selalu mempercayai aku untuk mengantarkan anak-anak mereka sekolah dan sekalian aku jalan menuju kampus. Lumayan, makan pagi-siang-malam kadang di suplay mereka.. ahaihahai
Brakkkkkkkk
Aaaaaaaaaaaaaaaaa........”
Teriakku setelah ada sepeda yang menabrakku dari belakang ketika di persipangan jalan masuk kampus.
“Mbak... kenapa? Maaf ya mbak. Mbak baik-baik aja kan? Maaf mbak, tadi ada sedkit kerusakan di rem sepeda motor saya” Kata seseorang yang mengendarai motor itu.
            “Iy...iya gak papa.....” Sahutku sedikit kesal. Orang itu berkata di belakangku, kemudian aku tengok kebelakang. Ternyata dia adalah laki-laki dalam mimpi itu. Ketika melihatnya, sesaat terdiam hampir tidak percaya hingga ada suara klakson mobil yang memecah keheningan 5 detik itu. Lalu kami menepi di pinggir taman depan kampus.
“Maaf ya mbak, saya harus segera mengajar. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya saja [sambil menerahkan kartu nama]”
“Gak papa kok..”
“Baiklah kalau gitu, Assalamu’alaykum
Rasanya hatiku seperti gado-gado. Ada seneng, ada kesel, ada benci, dan ada banyak deh. Untung saja tidak terlalu parah lukanya. Hanya memar di bagian lutut dan butuh beberapa tetes obat merah saja.
“Butuh P3K...? ini mumpung saya dari kantor PMI. Kamu bersihin lukamu dulu.” Kata seorang perempuan yang berbaik hati membantuku.
“Makasih ya mbak.”
Setelah ku membersihkan luka kemudian segera ke lab untuk kuliah komputer pagi ini. Sudah telat sih, tapi ya kan kecelakaan. Mungkin ada tolerir. Segera kumasuki ruang lab dibantu Arsica yang tadi menolongku. Kami berpisah di depan pintu lab dan kuketuk pintu lab kamudian masuk.
Haaaaa.... ada dia lagi! Orang yang dimimpiku. Hari ini ketemu lagi. Shock seketika, jatuh pingsanlah diriku. Selain karena sakit, juga karena terlalu kaget bahwa bertemu dia lagi. Orang yang dimimpiku. Aqsho namanya. Ternyata dia juga seorang assisten dosen yang membantu praktikum di lab.
Sejenak kemudian aku terbangun, dan Aqsho meminta maaf ketiga kalinya hari ini. Karena keadaanku yang tidak mendukung. Yunna temanku, mengantarkan aku ke kost. Hari itu Cenna libur dan kembalilah bercerita tentang rasa ini dan Aqsho.
Selain bertemu dua kali dengan Aqsho, hari itu ternyata juga merupakan hari terakhirku melihat Aqsho. Entah mengapa rasa dalam hati ini begitu merindukan melihatnya, padahal merindukan sesuatu yang tidak halal itu begitu menyakitkan. Aqsho hadir dalam mimpiku, sehari bertemu dengannya dengan cepat berlalu saja. Dan sejak saat itu perlahan mulai rontok kerinduan itu, tetapi ada rasa kuat tertanam. Menancap. Bahkan mengakar kuat.
“Sudahlah Zahira, kamu fokus ke skripsi kamu dulu aja, dari dulu bab satu aja finishingnya lama bener. Ayo ayo Zahira semangat”
“Baiklah..... [sambil lemes]”
Hey sist, remember.... Sesuatu hal itu punya hak. Salah satu hak nya adalah kehadirannya. So.... Dont worry. Kalau dia memang untukmu lak yo balik
“Iya deh Cenna... aku nurut kamu aja.”
Waktu itu punya sesuatu. Sesuatu itu punya waktu. Jadi tenang saja. Akan tetapi rasa menunggu itu pasti menyebalkan. Wajarlah manusia ingin mendapatkan sesuatu secara segera. Padahal segera itu butuh proses. Jangan memaksa. Paksaan itu hanya menimbulkan trauma. Let’s enjoy your life.
Perlahan skripsi mulai ku kerjakan, dari bab satu hingga bab-bab berikutnya. Dan tibalah sidang skripsiku. Hari ini tepat pukul 08.00-10.00, penguji akan segera melemparkan bom-bom waktu yang jika tidak segera kulempar kembali maka akan meledak di tempat dudukku.
“Zahira, santai aja. Anggap aja ini seperti ngobrol saja. Oke” Kata Cenna yang tiga bulan lebih dulu dariku menjalani sidang seperti ini.
“Sip deh.”
Rasa-rasanya berlama-lama di ruangan ini dehidrasipun mudah mneghampiriku. Dua jam itu tidak sebentar. Apakah terlalu banyak paparanku  hingga penguji-penguji ini selalu saja menemukan celah pertanyaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.05 masih saja penguji menguras keringatku.
Akhirnya, pukul 10.20 mereka membebaskan aku kemudian memberikan selamat atas smash-an semua pertanyaan mereka dan nilainya.... A- [3,85] Subhanalloh. Kutinggalkan ruangan itu, kujumpai Cenna.
“Cenna........ Alhamdulillah aku mendapat nilai A- [3,85], lebih diatas kamu kan? Hehehe”
Alhamdulillah..... selamat My lovely sister, Zahira. Jadi sekarang namanya Zahira  Zahra, S.E” Cenna memelukku sambil mengatakan hal itu.
“Ah Cenna, kamu malah duluan. Avicenna Syifa Avisa, S.E, hehehehhhe”
Satu bulan kemudian kami wisuda bersama di kampus hijau ini. Cenna sengaja menunda wisudanya, untuk menungguku. Meskipun dalam masa itu, ia sudah menikah dengan salah satu aktivis kampus.
***
“Zahira...maukah kamu menikah denganku?”
Detik terulang kembali, terhenti sesaat. Saling terdiam. Gerimis turun perlahan dan teratur membuat suasana seakan paling indah saja. Jantung yang masih berdetak dengan ritme yang lebih cepat. Darah mengalir keseluruh tubuh dengan aliran yang lebih cepat pula. Detik itu terasa berarti. Setelah empat bulan terakhir melupakannya. Tiba-tiba ia hadir kembali. Membuat detikku berhenti sesaat lagi. Mengatakan hal yang sama dengan saat itu. Ragaku menjadi kaku seketika. Gerimis belum mau berhenti dan raga kembali tak kuasa untuk melangkahkan kaki dari tempat itu. Gerimis juga tak segera mereda, malah semakin deras saja. Kapan pelangi akan muncul? Aku rindu spektrum warna itu. Kenapa Cenna tidak segera menumpahkan air di wajahku. Aku tidak mau mengungkap lara ini kembali. Aqsho hadir kembali setelah kepergiannya empat bulan lalu. Apa yang terjadi?
“Zahira... maukah kamu menikah denganku?” Ia mengulangi kalimatnya kembali.
“Zahira... Zahira... kamu melamun? That’s not dream!”
“Ehm.... ehm.....[mengangguk]”
***
“Umi tahu, kenapa dulu Abi pergi menghilang selama empat bulan?”
“Ehm... ehm... [menggeleng]”
“Sebenarnya Abi memiliki rasa merindukan perempuan. Rasa cinta kepada manusia yang mengkhawatirkan terkotorinya hati Abi. Abi mencintainya dan ingin meminangnya, tetapi Abi belum mampu untuk melakukannya. Sehingga Abi pergi dari sini dan menyiapkan jasmani dan rohani agar segera dapat meminangnya.”
Wajah iri, cemburu, kesal, dan teman-temannya mulai muncul di wajahku yang telah terlebih dahulu hinggap di hatiku. Kudiamkan Abi ketika ia  terus mendeskripsikan rasa suka kepada perempuan itu. Entahlah, rasa cemburu terus bergelayut seakan menutup hatiku. Ataukah karena kecintaanku pada suamiku? Segera kutinggalkan Abi sendiri di kursi taman rumah kami. Tiba-tiba Abi memberhentikan langkahku dengan memegang jari-jari tanganku.
“Umi mau kemana? Dengar dulu dong, Abi belum selesai bercerita.”
Tanpa sepatah katapun aku berusaha melepaskan jari-jariku dari genggaman tangan Abi. Seketika Abi ikut berdiri.
“Umi, Umi mau tau gak siapa perempuan itu?”
Tetap saja aku terdiam ketika Abi berkali-kali melempariku pertanyaan-pertanyaan.
“Umi... sakit gigi ya? Kenapa gak jawab pertanyaan Abi. Hem... Abi tahu, pasti Umi cemburu ya....?”
Kalimat-demi kalimat Abi yang suka becanda. Malah semakin membuat hati ini serasa memuncakkan rasa cemburu itu
“Umi.... sebenarnya dia adalah Za.... Zahira Az Zahra.”
Mendengar kalimat itu serasa cuaca di siang hari yang cukup terik lalu tiba-tiba hujan deras turun mengguyur dan tiba-tiba terang kemudian bermunculanlah spektrum warna yang mulai berpadu menghiasi ufuk timur langit sore.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar