Denting Cinta di Sujudku
Oleh : Verra Nur Hidayati
Langit
terlihat cerah pagi ini, mentari tersenyum pada setiap insan yang menatapnya,
semilir angin menari indah pada pusarannya. Burung bernyanyi merdu. Menjadikan
indah alam semeta yang selalu bertasbih, dengan penuh cinta. Dan mengisyaratkan
kesejukan pagi ini.
Pukul delapan lebih lima menit, Assaf tiba di kampus.
Terhitung paling awal dari pada teman-teman yang lainnya. Kuliah pertama Ushul
Fiqih masih akan dimulai dua puluh lima menit lagi. Tak segera Assaf menuju
gedung tempat ia belajar. Namun, Assaf menyempatkan diri untuk beribadah
terlebih dahulu di masjid yang terletak tak jauh dari gedung. Khusyuk...sampai pada akhirnya sedikit
terganggu oleh suara teman-teman nya, Fathur, Rosyid, Mahmud dan Latif.
”Assalammu’alaikum Assaf”. Sapa Fathur
”Wa’alaikumsalam,
mau salat juga?”.tanya Assaf
”Iya” jawab mereka serentak.
”Silakan, sepuluh menit lagi kita masuk kuliah, saya
tunggu di sini.”
Tiada
jawaban lagi dari teman-tamannya, karena masing-masing sudah bersiap untuk menunaikan
salat dhuha.
Assaf
menunggu ke-empat temannya sambil berbenah diri, mulai dari merapikan baju,
rambut, dan memakai sepatu hitamnya. Tak lama kemudian Handphonenya berdering,
Assaf segera membuka, 1 massage received,
muncul nama Akh.Faliq.
Assalammu’alaikum,
Diberitahukan kepada kelompok Abu Bakar, Assistensi keagamaan, diajukan
hari ini 24 Des 09, 11.30 WIB. T4 menyusul. Sebarkan ke yang lain de’.. JzkmllhKK.
Assaf
membaca sms, dan langsung mengirimkan pada teman satu kelompoknya
Lalu terdengar Naufal memanggilnya,
”Assaf ayo kita ke kelas, dosen sudah datang. Baru saja
Ridwan sms.”
”Iya, saya juga sudah siap”. Jawab Assaf
Mereka
keluar dari masjid bersama-sama, dan tiba di gedung tepat saat dosen mulai
menerangkan, setelah beberapa saat mengotak-atik layar LCD untuk menampilkan slide
bahan mata kuliah pagi itu.Suasana kelas begitu tenang, tiada satupun celotehan
yang muncul.
Dua jam
telah berlalu, mata kuliah pertama telah berakhir. Satu per satu keluar
meninggalkan ruang kelas.Tampak Zahra jalan bersama Alya sahabat dekatnya. Mereka
duduk di bangku depan kelas, seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain.
”Alya daripada kita duduk disini dan g’ ada kegiatan
mendingan kita cari bahan untuk presentasi minggu depan ke perpustakaan saja,
gimana? Setuju?” ajak Zahra.
”Hadzihi fikratun
thoyyib (ini ide bagus)” jawab Alya.
”Ayo...lah, kalau begitu”.
Zahra
dan Alya berjalan menuju perpustakaan, yang jaraknya hanya beberapa meter dari
ruang kelas. Keduanya masuk, lalu meletakkan tas di tempat yang sudah
disediakan. Dan ternyata Assaf sahabat dekat Zahra juga berada disitu bersama
Naufal.
”Hai...Zahra cari buku apa?” tanya Assaf.
”Assaf, mau cari buku Akuntansi syari’ah, untuk referensi
makalah”.jawab Zahra
”Untuk presentasi minggu depan?”
”Iya Saf.” jawab Zahra dengan kening yang mengerut karena
sibuk membaca judul – judul buku di rak.
”Perlu bantuan?”
”Terima kasih atas tawarannya Saf, silakan lanjutkan baca
korannya saja, biar Alya yang membatu mencari bukunya.”
”Oke...”
jawab Assaf sambil tersenyum.
Assaf dan Zahra bersahabat sejak
awal semester, mereka selalu bisa kompak dalam segala hal. Canda dan tawa ia
lalui bersama kurang lebih sudah satu tahun.Waktu yang masih cukup muda untuk
persahabatan mereka namun sudah memberi arti pada keduanya.
“Alhamdulillah, ini dia buku yang Zahra cari,
sudah ketemu Al, sekarang coba kita baca.” Ajak Zahra kepada Alya.
“Iya.. Ra’ ini juga ada referensi lain yang sempat Alya
ambil dari rak buku.”
Mereka
lalu duduk berdampingan di meja yang juga dipakai Assaf.
”Sudah ketemu Ra’?” tanya Assaf.
’Sudah Saf.” jawab Zahra dengan suara dan senyum
lembutnya.
Suasana
begitu tenang, Zahra dan Alya membaca buku dengan seksama, sesekali mereka
berunding materi mana yang akan diambil untuk bahan makalah. Setelah
selesai mereka sempatkan untuk bersantai di ruang full-AC itu.
”Beres.” ucap Alya yang tak sengaja terdengar oleh Assaf.
”Udah selesai Al’, em... gitu deh, tinggal ketik.”jawab
Alya sedikit genit.
”O..iya dua minggu lagi kita ujian akhir semester ya Al’?
benarkah?” tanya Assaf
”Iya... betul kenapa?”
”Wah... g’ kerasa udah satu tahun kita menempuh kuliah.”
Tak ada jawaban dari Alya, hanya pandangan mata yang
sedikit heran, begitu juga Zahra.
”Iya...Saf, sudah setahun juga kita bersama dalam suka
maupun duka bersama teman-teman sekelas.” sahut Zahra.
”Udah...ah.. kalian itu, kayak mau berpisah aja, memang
kita udah bersama selama satu tahun, dan waktu yang kita butuhkan bukan cuma
satu tahun kan Ra’, tapi empat tahun, jadi kita musti semangat buat kedepannya.”
”Iya...bener juga Al’, semoga kita juga bisa lulus
bareng.”
”Amin...” ucap Alya sambil melihat Assaf heran. Kemudian bertanya ”Koq...Assaf g’ ikut
menga-amin-i doa kita, g’ mau lulus
cepat seperti harapan kita? Betah kuliah di kampus hijau ini? He..he..he..”ledek
Alya.
Zahra tertawa kecil mendengar ledekan itu, berbeda dengan
Assaf yang hanya terdiam. Seakan ingin mengucapkan hal yang begitu serius.
Memandang kedua temannya dengan sedikit rasa gelisah yang berkecambuk. Dan
kemudian ia berkata,
”Bukan begitu Al’.”
”Terus kenapa Saf?”
”Apa aku harus cerita?” tanya Assaf.
”Assaf, kamu buat kita penasaran saja, kalau ingin
cerita, cerita saja tidak apa-apa, tapi kalau tidak ingin cerita, ya sudah kita
bahas yang lain aja.”
”Iya...Saf, tidak baik juga, kalau kita membuat orang
lain menjadi penasaran.” kata Zahra lembut, tidak dipungkiri rasa penasaran itu
mulai menggelayut juga di benak Zahra.
Assaf
pun menyetujui saran kedua temannya, segera ia memposisikan diri duduk
berhadapan dengan Alya dan Zahra dalam satu meja. Dan Assaf mulai bercerita.
Begini Al’...Ra’...Ya...mungkin benar kata Alya, kalau
kita masih punya waktu untuk bersama menyelesaikan kuliah di kampus tercinta
kita ini. Kurang lebih tiga tahun lagi, dan kita berharap agar bisa lulus bareng.
Tapi mungkin itu hanya berlaku buat kalian dan teman-teman saja, bukan diriku
ini.”
”Maksud kamu Saf’? ucap Zahra yang cemas dan penasaran.
”Masih ingat keinginan yang aku ceritakan Ra’? tanya
Assaf.
”Tentang apa?” jawab Zahra sambil mengingat apa yang
nenjadi keinginan Assaf, tapi tetap saja dia tidak ingat.
Suasana sedikit mencekam, tiba-tiba ponsel salah satu
dari mereka berdering. Segera ia keluarkan dari dalam saku, satu pesan diterima
dan segera dibaca oleh Assaf.
Assalammu’alaikum
De’ sudah ditunggu teman2,
Di masjid Al-Iman depan kampus, Sekalian salat Dhuhur
nanti, antum dmn?
Jzkmllhkk. Faliq ”Abu Bakar”
”Astaughfirullah akhi Faliq,”
”Kenapa Saf? Tanya Zahra.
”Aku lupa kalau jadwal asistensi keagaman diajukan hari
ini”
”Jam berapa?”
”Setengah dua belas.”
”Ini sudah jam dua belas kurang lima menit, dan sebentar
lagi adzan.”
”Iya Ra’ nanti kita sekalian salat berjamaah di masjid
Al-Iman, maaf aku harus segara kesana, Assalammu’alaikum
Ra’...Al’...” ucap Assaf begitu tergesa-gesa.
”Wa’alaikumsalam”
jawab mereka bersamaan.
”Kita ditinggal gitu aja, hem...Assaf.” ucap Zahra kepada
Alya.
”By
the way, pulang yuk Ra’ udah g’ ada kuliah lagi kan ?” ajak Alya.
“Iya
Al’, Ayo kita pulang sekarang.”
Rasa penasaran itu belum juga pergi
dari hati Zahra, terus saja ia memikirkan apa yang telah di ceritakan Assaf
kepadanya. Dibawanya rasa itu kemanapun ia berjalan dan berkata ia dalam hati.
Ya...Rabb...kenapa hati ini menjadi
resah, hanya karena cerita dari sahabat ku yang belum sempat ku ingat, kenapa hati
ini lebih merasa takut kehilangan dia. Apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Astaughfirullah, lindungi hamba dari rasa ini Ya Rabb hilangkan jika tak pantas
untuk hamba dan jauhkan jika rasa ini membuat hamba lupa tentang-Mu.
Zahra segera menepis rasa itu, Jarum
jam menunjuk pukul delapan malam, Zahra mempersiapkan diri untuk belajar.
Memulai untuk mengetik materi untuk makalahnya. Tak lama kemudian ponselnya
berdering. ‘1 massage received’ muncul satu nama “Assaf”dan segera ia buka.
Assalammu’alaikum...Zahra.
Gi ngerjain tugas ya?
Gi ngerjain tugas ya?
Afwan
td siang sempat terputus ngobrolny^^
Wa’alaikumsalam wr.wb…Saf,
Iya g’ pa pa, sekarang silakan bercerita.
Gini msh ingat keinginan yang pnh
Assaf ceritakan dulu?
Afwan, Zahra benar benar lupa.
Kalau boleh tahu, Tentang apa Saf?
Keinginanku untuk pindah kuliah,
Maksudnya Saf?
Keinginan
ku pindah ke universitas ternama di kota
ini.
Ow... iya, Zahra ingat.
Gmn? Jadi Saf?
InsyaAllah jadi, mau ambil D3 Hiperkes.
Doakan ya Ra’, Smga ditrima,
Cz ingin seperti Om.Dzulfi,
Yang lulus lagsg dapt kerja,
Iya Zahra do’akan, Assaf diterima,
N bisa mdpatkan yang terbaik,
pastinya sesuai yang Assaf inginkan, Amin.Smgt!^
Amin,
Ya robbal’alamin
Oce…keep
spirit and istiqomah.
Zahra,
engkau memang sahabat terbaikku.
Sudah malam, silahkan istirahat
Saf.
Lanjut bsk InsyaAllah ya,,
Zahra segera menutup line sms,
Jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Sejenak ia berfikir tentang apa yang
telah diceritakan oleh Assaf. Kegundahan mulai menapaki tanah hatinya, resah hingga menjadi
dilema.
Mungkin
dalam hitungan hari, ia akan ditinggalkan oleh sahabat dekatnya.Tiada lagi
canda tawa, nasehat, dan kebersamaan seperti biasanya berkata ia dalam hati.
Ya Rabb,
rasa apa yang kurasa saat ini...Menggelayut sendu, Ingin diri ini ingkar, tapi
bagaimana..Hadir begitu saja,Tertawa dan menanggis karenannya...Lindungi hamba
ya Rabb, padaMu hamba berserah diri...
Disebrang
rasa gundah itu juga dialami Assaf, demi cita-citanya yang di impikan, ia harus
rela meninggalkan teman-teman di kampus termasuk Zahra, hatinya sedih jika
harus berpisah dengan mereka, tapi keinginan nya lebih kuat dan mampu
mengalahkan semuanya. Dia selalu yakin bahwa inilah jalan yang terbaik. Apalagi
kedua orangtuanya juga sangat mendukung kalau Assaf berpindah ke kampus yang
lebih ternama di kotanya.
Sebenarnya
Assaf begitu menyayangi Zahra, dia
merasa Zahra adalah teman sekaligus sahabat terbaik yang pernah ia temukan.
Semakin hari rasa itu akhirnya berubah menjadi rasa cinta dan belum mampu ia
ungkapkan kepada Zahra, karena takut perasaan cintanya tidak sama seperti apa
yang dirasakan Zahra. Karena saat ini mereka ada hanya untuk sebuah
persahabatan. Assaf selalu beranggapan, Jika Zahra adalah jodoj untuknya,
kemanapun akan pergi, ia yakin pasti akan dipertemukan kembali.
Aku tak akan pernah bisa mengungkap
apa yang akan aku ungkap...
menyimpan...
dan terus ku simpan... lama...
seakan waktu terus menghimpit
helaan nafasku...
di raga yang kian terasa sempit
kusebut asma-Mu sebagai penawar hati
yang terluka karena cinta
ikhlas... satu kata yang terus
aku perjungkan
agar hidup tak jauh dari cinta-Mu
Assaf
Waktu
terus berlari, mengganti masa. Tiba saatnya liburan akhir semester, setelah
Zahra, Assaf, Sifa, begitu juga teman-temannya usai menempuh ujian akhir. Ada
waktu panjang untuk refreshing melepas
penat selama satu semester bercengkrama dengan tugas-tugas dari dosen.
Assaf
disibukkan dengan pendaftaran mahasiswa
baru. Melengkapi persyaratan – persyaratan yang di berikan. Namun tengah
kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan
teman-taman di kampus lamanya tak terkecuali sahabatnya Zahra. Meski hanya
sekedar line sms.
Assalammu’alaikum Zahra?
Gimana kabrnya?
Baik kan?
Wa’alaikumsalam Assaf,
Alhamdulillah baik,
Assaf jg kan,
Gmn sudah pengumuman?
Iya Ra’ ku juga baik2 j,
Alhamdulillah Ra’ berkat do’a kalian,
Aku diterima. Terimaksh ats dukungannya^
Iya, sama2 Saf,
Zahra ikut senang mendengar berita ini.
Sesegera
mungkin Assaf ingin membalas sms dari Zahra, namun ternyata.
”Uhh... sial pulsa habisssss. Tinggal 15 perak” kata
Assaf kecewa.
Line sms
terputus tetapi Zahra masih menuggu, berharap Assaf akan membalas pesan
darinya, setelah lama kemudian tidak muncul juga. Akhirnya Zahra kembali
meletakkan handphone-nya. Rasa gelisah
bercampur rindu terus menggelayut. Segera ia tepis, dengan seuntai do’a untuk
Assaf. Agar Allah selalu memberikan yang
terbaik untuknya.
Pukul
dua belas malam, ingin Zahra memejamkan mata. Terasa ada cinta yang berdenting
di setiap sudut hatinya, semakin hari semakin keras dentingan itu. Membuat
hatinya resah, sebisa mungkin ia tepis rasa itu.
Zahra
memutuskan untuk salat malam, bersujud di hadapan Sang Maha Pencipta Cinta.
Sayup terdengar alunan do’a itu.
Ya
Allah,, sentuhlah hamba dengan cinta suci-Mu, tentramkan hamba dengan cinta
yang engkau ridhoi bukan cinta yang mengajakku pada kelalaian untuk
mengingat-Mu, bimbinglah hamba, dan tunjukilah hamba pada jalan lurus-Mu, agar
hamba tak jauh dari cinta-Mu, Subhanalloohi wal hamdulillah wa laa ilaaha illalloohu walloohu akbar wa laa haula wa laa
Quwwata illaa billahi (Maha suci Allah, segala puji hanya bagi Allah, tiada
Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar dan tiada daya
dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah). Amin Ya Robbal’alamin.
Tetes
airmata cinta berlinang menghiasi hamparan sajadah, membersihkan luka,
menjernihkan pikiran, meluruskan niat, menuju cinta hanya pada Illahi.
Zahra
memutuskan untuk melupakan cinta itu, dia sadar bahwa dia ada hanya untuk persahabatan.
Tak ingin ia berlarut-larut dalam kasedihan karena berpisah dengan sahabatnya
Assaf. Zahra berusaha meyakinkan dirinya, bahwa perpisahan ini sudah menjadi
rencana Allah yang terbaik untuknya. Dia berharap jika jodoh pasti akan
bertemu. Karena segala sesuatu akan jadi indah jika sudah tiba pada waktunya.
Engkau terlalu indah untuk ku miliki,
bias kenangan darimu cukup untuk kurasa
dan kuingat dalam kekosongan hati
di waktu waktu ku
memilikimu adalah harapanku
harapan yang menjadi semu
ketika ku tahu siapa diriku ini
dan harapan yang menjadi terhempas
ketika cinta-Nya datang menyapaku
Subhanallah, sungguh indah jalan cintaku,
tak hanya tawa yang hadir,
air matakupun ikut mengiringi,
tak ada yang indah saat ini
kecuali cinta suci yang
dilimpahkan sang pencipta cinta
untuk diriku yang berdenting di setiap sujudku....
Zahra
*. Karya ini saya persembahkan untuk ibuku, yang cintanya tak akan pernah sirna
dari hati dan pandanganku, serta saudara-saudaraku yang telah melambangkan
cinta dengan persahabatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar