Minggu, 03 Maret 2013

CERPEN


Cintamu seluas samudera
Oleh :  Sholikhah

Mentari siang begitu menyengat, seperti membakar benda di muka bumi ini. Terlihat orang lalu lalang memakai tutup kepala, payung serta pakaian berlengan panjang. Tampak air kecut mengalir dari kening menetes ke badan. Alas kaki pun harus selalu terpakai karena jalanan yang panas.
            Namun di pinggir jalan terlihat seorang nenek tanpa alas kaki, menyampirkan selendang untuk menutup kepalanya dan mengelap keringatnya yang kian mengucur. Nenek itu berjalan dengan sedikit membungkuk karena menggendong barang dagangannya.
            “Becak Budhe? tawar pak becak.
            “Nggih Mas, seperti biasa nenek itu mengiyakan karena sudah langganan.
            “Budhe Panjenengan tidak capek apa, setiap hari bolak-balik ke pasar untuk menjual kantong gandum itu. Mending di rumah saja. Budhe sudah tua, biar anak Budhe saja yang bekerja.” Kata pak becak sambil mengayuh sekuat tenaga.
            “Oalah Mas, kalau saya disuruh berhenti bekerja itu rasanya tidak enak. Daripada di rumah juga tidak ada kerjaan, anak-anak saya juga sudah bekerja, tapi untuk menafkahi keluarganya saja masih tersendat-sendat.” Ucap nenek dengan hati risau memikirkan nasib anak-anaknya.
            “Ya Panjenengan terbiasa berjualan sih Budhe, jadi kalau di rumah juga tidak enak, ya to Budhe? Lha putra Budhe itu memangnya kerja apa? Kok menafkahi saja tersendat-sendat?” tanya Pak becak penasaran.
            “Mohan anak pertama saya, dia jadi penjahit di pinggir jalan situ. Anaknya sudah tiga. Lalu Sardi, dia jadi buruh pabrik. Sardi anaknya juga tiga. Terus Norman, dia dan istrinya juga buruh pabrik. Anaknya baru satu. Kenudian Purwanti, dia dan suaminya bakul nasi pecel di pasar. Sementara anaknya sudah empat, kasihan dia.” Jelas nenek itu dengan lirih.
            “Sudah sampai Budhe. Maaf saya turunkan di sini. Soalnya becak saya tidak muat lewat gang ini. Nyuwun pangapunten Budhe.”
             “Ya ndak apa-apa, saya bisa jalan. Sudah dekat kok. Maturnuwun Mas.” Ucap nenek sambil menyodorkan uang.
            Sampai di rumah seperti biasa, setelah istirahat sebentar nenek itu pun langsung menjahit. Beliau membuat celana dan baju dari kantong gandum itu sesuai pesanan pembeli. Nenek itu tak pernah berhenti bekerja. Meski suaminya selalu mengingatkan, nenek bersikeras menolak.
            Sore hari, si kakek pulang. Beliau bekerja menjadi buruh bangunan.Panas-panas seperti ini, beliau pun berusaha tidak menghiraukan. Tiba-tiba kakek kesakitan. “Aduh Bu, punggung bapak pegal sekali. Kaki Bapak juga sakit karena tadi tertancap Paku.” Kata kakek parau karena menahan sakit.
            “Sudah Pak, istirahat dulu. Biar ibu belikan obat pegal di warung Sri. Kalau kaki bapak gimana? Pakunya sudah bisa… “
            “Iya, iya Bu sudah bisa kuambil. Tolong Bu, ambilkan air hangat dituangkan di ember ya Bu. Biar kurendam kaki ini.” Sela kakek karena sakit di kakinya.
***
            Beberapa hari ini kakek tidak bekerja, karena kakek baru berobat ke dokter Deni. Nenek pun tetap bekerja, tapi kali ini barang dagangan yang dibawa nenek sedikit, karena kantong gandum sekarang ini agak langka, susah mencarinya.
            Sore ini Mohan datang menjenguk, sambil ingin membicarakan sesuatu kepada nenek. “Saya boleh meminjam uang Bu. Rohman dan Fery butuh biaya sekolah mereka,” pinta Mohan lirih karena malu dengan orang tuanya.
            Sebelum terjadi penurunan ekonomi keluarga nenek, memang dulu dagangan nenek laris terjual. Seperti biasa, malah anak-anaknya yang meminjam karena keadaan ekonomi mereka yang tidak mendukung.
            “Han bapakmu lagi sakit. Uang ibu untuk berobat bapakmu.”
            “Lalu Mohan pinjam uang siapa lagi Bu. Hutang Mohan dimana-mana.”
            “Coba kamu pinjam adikmu, Norman sana!” saran nenek.
            Ternyata benar setelah ngomong sama Norman, dipinjami uang. Nenek sedih memikirkan anaknya yang kesusahan. Akhir-akhir ini nenek juga sering pusing. Sementara itu, Norman tidak begitu perhatian sama nenek. Kadang malah memarahi. Dia dan istrinya sibuk bekerja, kadang lembur sampai malam baru pulang.
***
            Hari ini kakek sudah mulai bekerja, sementara nenek berangkat untuk membeli kantong-kantong gandum yang akan dijadikan pakaian atau yang lain sesuai pesanan.
            “Waduh Bu. Ibu terlambat, tadi baru saja diborong sama Pak Udin. Sekarang sudah habis Bu. Akhir-akhir ini saya juga jarang dikirimi Bu. Langka !” tegas penjual langganan nenek.
            “Lha gimana ini, kalau saya tidak kebagian berarti saya tidak bisa jualan.” Raut wajah nenek terlihat sedih dan bingung.
            “Coba panjenengan cari yang lain dulu Bu.” Saran penjual itu.
            Nenek itu mondar-mandir dari penjual-penjual kantong gandum di tempat itu. Mereka mengatakan hal yang sama kalau sekarang kantong gandum langka. Nenek pun pindah ke tempat lain, tetapi hasilnya sama. Setelah mencari kemana-mana tetapi tidak ada, nenek pun pulang dengan gelisah. Kepala nenek pusing.
            Siang ini Sani, anak dari Purwanti berkunjung ke rumah nenek dengan kakaknya naik sepeda.
            “Assalamu’alaikum Mbah putri,” teriak Sani karena seperti biasa pintu rumah itu selalu terkunci. Tak lama kemudian, nenek membuka pintu dan mereka lalu mencium tangan nenek.
            “Ini Siti dan Sani to?” tebak nenek yang biasanya lupa.
            “Iya Mbah..” mereka pun bermain di rumah nenek sebentar, kemudian Sani bicara rada sungkan dengan nenek.
            “Mbah besok Rabu, sekolah Sani mengadakan piknik ke Bandung. Kalau Mbah putri punya uang, Sani boleh minta tidak, Mbah,? Buat tambahan uang saku kesana nanti.”
            Nenek tambah pusing, “Nduk, simbah ini baru ndak bekerja karena nggak ada barang dagangan yang dijual. Kalau simbah bekerja, pasti simbah kasih. Nggak apa-apa to nduk. Simbah nggak bisa beri uang.”
            “ Tidak apa-apa kok Mbah. Maaf Mbah, Sani sudah ngrepotin Simbah. Kalau begitu Sani dan Kak Siti pulang dulu,” pamit mereka.
            Nenek pun sedih lagi karena tidak bisa memberi cucunya uang. “ Pasti jualan Purwanti sepi di pasar.” Pikir nenek.
            Norman pulang dengan wajah kusut. Nenek pun bertanya, “Nor, ada apa? Kok kamu kelihatan gelisah?”
            “Tadi Saya ketemu Mas Sardi, Bu. Dia kena PHK, dan saya juga was-was Bu. Karena teman-teman saya juga kena PHK. Kalau saya…”
            “Sudah Nor. Kamu berdoa saja semoga tidak di PHK. Kasihan Sardi sekarang cari kerja itu benar-benar susah.” Nenek pun menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya, lelah memikirkan semua ini.
***
            Nenek bosan di rumah terus, jadi setiap  siang hari nenek pergi ke pasar untuk menagih hutang-hutang yang belum terbayar oleh pembeli yang juga jualan di pasar. Sebenarnya kakek sudah mengingatkan untuk di rumah saja, tetapi nenek menolak. Mungkin nenek stress di rumah terus karena beliau juga sudah terbiasa berjualan mondar-mandir di pasar.
            Nenek sedih mau minta uang pada anak-anaknya yang juga butuh uang. Sementara hasil kerja dari kakek cukup untuk makan. Jadi nenek selalu pergi menagih hutang-hutang supaya ada tambahan.
            Hari ini Sani pulang dari piknik. Karena sekolahnya dekat pasar, jadi dia menuju warung ayahnya untuk diantarkan pulang. Sani mengajak temannya untuk mampir dulu ke warung ayahnya. Jalan raya ramai, mereka berdua lewat jembatan penyeberangan saja.
“San, kamu punya receh nggak? Pasti kita lewat di sini banyak pengemis.” Terang Tanti.
            “O… iya bener Tan. Ku ambil dulu deh recehan di dompetku.” Biasanya mereka tidak memberi kepada semua pengemis, hanya tertentu saja. Mungkin, pengemis yang paling dikasihani.          “Tan, lihat nenek itu kasihan sekali.” Kata sani.
            “Mana? Tanti tampak bingung yang dimaksud Sani, tiba-tiba “ O… iya itu kan yang berkerudung selendang, memakai baju hitam kumal, tanpa alas kaki… yuk!”
            “Iya bener… kasihan nenek itu.”
            Nenek itu pun menengadahkan kedua tangannnya. Tetapi kepalanya menunduk tidak berani menatap orang-orang yang memberinya. Mulutnya pun berucap doa bagi yang memberinya.
            Tanti pun menyodorkan uangnya, Sani di belakangnya “ Ini Nek, semoga berguna untuk nenek.” Nenek pun membalas dengan doa.
            “Sani terhenti, dia seperti kenal suara itu. “ Seperti suara mbah putri.” Ucapnya dalam hati.
            Tanti pun menghampirinya, “Ada apa San?”
            “Itu, itu nenekku. Nenek pengemis itu nenekku.” Dalam hatinya berbicara seperti itu. Tapi mulutnya tidak mau mengatakan. Temannya tidak boleh tahu.
            Sani sempat menitikkan air mata.“ San, kenapa kamu menangis? Kamu kasihan ya? Ya sudah kamu berdoa saja supaya nenek itu diberi perlindungan oleh Allah.”
Tanti mengira Sani hanya sebatas kasihan, dia tidak tahu kalau nenek itu adalah nenek Sani.
Tiba-tiba “ Aduh!” Sani kesakitan ada yang menginjak kakinya.
             “Makanya dek. Jangan di tengah jalan.” Kata orang itu.
            “Uh dasar! Udah nginjak malah ngomel. Ayo San, kita ke warung ayahmu saja,” ajak Tanti.
            Sani Masih sedih, kenapa neneknya melakukan semua ini. Sani yakin bahwa nenek itu adalah Mbah Putri. Di rumah ia menceritakan kepada orang tuanya. Ayah dan ibunya sebelumnya tidak percaya.
            “Mungkin kamu salah lihat San. Nenek itu mungkin mirip dengan mbah putrimu,” hibur ibu yang sebenarnya was-was juga.
            Sani pun tetap meyakinkan bahwa yang ia lihat adalah mbah putrinya.
            “Ya sudah, biar Ibu dan Bapak besok setelah pulang dari pasar ke tempat mbah putrimu.”
            Sani mengangguk dengan lemas. Dalam hatinya mengatakan bahwa nenek itu adalah mbah putrinya. Ia sangat sedih, “ Apa mbah putri stress memikirkan semua ini,” pikirnya.
            “Tidak. Ya Allah hilangkanlah pikiran-pikiran negatif dalam diri hamba. Semoga Engkau memberikan kesehatan dan perlindungan pada mbah putri ya Allah….Amiin,”  doa  Sani dalam hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar