Cintamu
seluas samudera
Oleh : Sholikhah
Mentari siang begitu menyengat,
seperti membakar benda di muka bumi ini. Terlihat orang lalu lalang memakai
tutup kepala, payung serta pakaian berlengan panjang. Tampak air kecut mengalir
dari kening menetes ke badan. Alas kaki pun harus selalu terpakai karena
jalanan yang panas.
Namun
di pinggir jalan terlihat seorang nenek tanpa alas kaki, menyampirkan selendang
untuk menutup kepalanya dan mengelap keringatnya yang kian mengucur. Nenek itu
berjalan dengan sedikit membungkuk karena menggendong barang dagangannya.
“Becak
Budhe?”
tawar pak becak.
“Nggih
Mas,” seperti biasa nenek itu mengiyakan
karena sudah langganan.
“Budhe
Panjenengan tidak capek apa, setiap hari
bolak-balik ke pasar untuk menjual kantong gandum itu. Mending di rumah saja.
Budhe sudah tua, biar anak Budhe saja yang bekerja.” Kata pak becak sambil
mengayuh sekuat tenaga.
“Oalah
Mas, kalau saya disuruh berhenti bekerja itu rasanya tidak enak. Daripada di rumah juga
tidak ada kerjaan, anak-anak saya juga sudah bekerja, tapi untuk menafkahi
keluarganya saja masih
tersendat-sendat.” Ucap nenek dengan hati risau memikirkan nasib anak-anaknya.
“Ya
Panjenengan terbiasa berjualan sih Budhe, jadi
kalau di rumah juga tidak enak, ya to Budhe? Lha putra Budhe itu memangnya
kerja apa? Kok menafkahi saja tersendat-sendat?” tanya Pak becak penasaran.
“Mohan
anak pertama saya, dia jadi penjahit di pinggir jalan situ. Anaknya sudah tiga.
Lalu Sardi, dia jadi buruh pabrik. Sardi anaknya juga tiga. Terus Norman, dia dan istrinya juga
buruh pabrik. Anaknya baru satu. Kenudian Purwanti, dia dan suaminya bakul nasi pecel di pasar. Sementara
anaknya sudah empat, kasihan dia.” Jelas nenek itu dengan lirih.
“Sudah
sampai Budhe. Maaf saya turunkan di sini. Soalnya becak saya tidak muat lewat
gang ini. Nyuwun pangapunten
Budhe.”
“Ya ndak apa-apa, saya bisa jalan. Sudah dekat
kok. Maturnuwun Mas.” Ucap nenek
sambil menyodorkan uang.
Sampai di rumah seperti biasa,
setelah istirahat sebentar nenek itu pun langsung menjahit. Beliau membuat
celana dan baju dari kantong gandum itu sesuai pesanan pembeli. Nenek itu tak
pernah berhenti bekerja. Meski suaminya selalu mengingatkan, nenek bersikeras
menolak.
Sore
hari, si kakek pulang. Beliau bekerja menjadi buruh bangunan.Panas-panas seperti ini, beliau pun
berusaha tidak menghiraukan. Tiba-tiba kakek kesakitan. “Aduh Bu, punggung
bapak pegal sekali. Kaki Bapak juga sakit karena tadi tertancap Paku.” Kata
kakek parau karena menahan sakit.
“Sudah
Pak, istirahat dulu. Biar ibu belikan obat pegal di warung Sri. Kalau kaki
bapak gimana? Pakunya sudah bisa… “
“Iya,
iya Bu sudah bisa kuambil. Tolong Bu, ambilkan air hangat dituangkan di ember
ya Bu. Biar kurendam kaki ini.” Sela kakek karena sakit di kakinya.
***
Beberapa
hari ini kakek tidak bekerja, karena kakek baru berobat ke dokter Deni. Nenek
pun tetap bekerja, tapi kali ini barang dagangan yang dibawa nenek sedikit,
karena kantong gandum sekarang ini agak langka, susah mencarinya.
Sore
ini Mohan datang menjenguk, sambil ingin membicarakan sesuatu kepada nenek.
“Saya boleh meminjam uang Bu. Rohman dan Fery butuh biaya sekolah mereka,”
pinta Mohan lirih karena malu dengan orang tuanya.
Sebelum terjadi penurunan ekonomi keluarga nenek, memang
dulu dagangan nenek laris terjual. Seperti biasa, malah anak-anaknya yang
meminjam karena keadaan ekonomi mereka yang tidak mendukung.
“Han
bapakmu lagi sakit. Uang ibu untuk berobat bapakmu.”
“Lalu
Mohan pinjam uang siapa lagi Bu. Hutang Mohan dimana-mana.”
“Coba
kamu pinjam adikmu, Norman sana!” saran nenek.
Ternyata
benar setelah ngomong sama Norman, dipinjami uang. Nenek sedih memikirkan
anaknya yang kesusahan. Akhir-akhir ini nenek juga sering pusing. Sementara
itu, Norman tidak begitu perhatian sama nenek. Kadang malah memarahi. Dia dan
istrinya sibuk bekerja, kadang lembur sampai malam baru pulang.
***
Hari
ini kakek sudah mulai bekerja, sementara nenek berangkat untuk membeli
kantong-kantong gandum yang akan dijadikan pakaian atau yang lain sesuai
pesanan.
“Waduh
Bu. Ibu terlambat, tadi baru saja diborong sama Pak Udin. Sekarang sudah habis
Bu. Akhir-akhir ini saya juga jarang dikirimi Bu. Langka !” tegas penjual
langganan nenek.
“Lha
gimana ini, kalau saya tidak kebagian berarti saya tidak bisa jualan.” Raut
wajah nenek terlihat sedih dan bingung.
“Coba
panjenengan cari yang lain dulu Bu.”
Saran penjual itu.
Nenek
itu mondar-mandir dari penjual-penjual kantong gandum di tempat itu. Mereka
mengatakan hal yang sama kalau sekarang kantong gandum langka. Nenek pun pindah
ke tempat lain, tetapi hasilnya sama. Setelah mencari kemana-mana tetapi tidak
ada, nenek pun pulang dengan gelisah. Kepala nenek pusing.
Siang
ini Sani, anak dari Purwanti berkunjung ke rumah nenek dengan kakaknya naik
sepeda.
“Assalamu’alaikum
Mbah putri,” teriak Sani karena seperti biasa pintu rumah itu selalu terkunci.
Tak lama kemudian, nenek membuka pintu dan mereka lalu mencium tangan nenek.
“Ini
Siti dan Sani to?” tebak nenek yang biasanya lupa.
“Iya
Mbah..” mereka pun bermain di rumah nenek sebentar, kemudian Sani bicara rada
sungkan dengan nenek.
“Mbah
besok Rabu, sekolah Sani mengadakan piknik ke Bandung. Kalau Mbah putri punya
uang, Sani boleh minta tidak, Mbah,?
Buat tambahan uang saku kesana nanti.”
Nenek
tambah pusing, “Nduk, simbah ini baru ndak bekerja karena nggak ada barang
dagangan yang dijual. Kalau simbah bekerja, pasti simbah kasih. Nggak apa-apa
to nduk. Simbah nggak bisa beri uang.”
“ Tidak apa-apa kok Mbah. Maaf Mbah, Sani sudah ngrepotin
Simbah. Kalau begitu Sani
dan Kak Siti pulang dulu,” pamit mereka.
Nenek pun sedih lagi
karena tidak bisa memberi cucunya uang. “ Pasti jualan Purwanti sepi di pasar.”
Pikir nenek.
Norman
pulang dengan wajah kusut. Nenek pun bertanya, “Nor, ada apa? Kok kamu
kelihatan gelisah?”
“Tadi
Saya ketemu Mas Sardi, Bu. Dia kena PHK, dan saya juga was-was Bu. Karena teman-teman
saya juga kena PHK. Kalau saya…”
“Sudah
Nor. Kamu berdoa saja semoga tidak
di PHK. Kasihan
Sardi sekarang cari kerja itu benar-benar susah.” Nenek pun menuju kamar untuk
mengistirahatkan tubuhnya, lelah memikirkan semua ini.
***
Nenek
bosan di rumah terus, jadi setiap siang
hari nenek pergi ke pasar untuk menagih hutang-hutang yang belum terbayar oleh
pembeli yang juga jualan di pasar. Sebenarnya kakek sudah mengingatkan untuk di
rumah saja, tetapi nenek menolak. Mungkin nenek stress di rumah terus karena
beliau juga sudah terbiasa berjualan mondar-mandir di pasar.
Nenek
sedih mau minta uang pada anak-anaknya yang juga butuh uang. Sementara hasil
kerja dari kakek cukup untuk makan. Jadi nenek selalu pergi menagih
hutang-hutang supaya ada tambahan.
Hari
ini Sani pulang dari piknik. Karena sekolahnya dekat pasar, jadi dia menuju
warung ayahnya untuk diantarkan pulang. Sani mengajak temannya untuk mampir
dulu ke warung ayahnya. Jalan raya ramai, mereka berdua lewat jembatan
penyeberangan saja.
“San, kamu punya receh nggak? Pasti
kita lewat di sini banyak pengemis.” Terang Tanti.
“O…
iya bener Tan. Ku ambil dulu deh recehan di dompetku.” Biasanya mereka tidak
memberi kepada semua pengemis, hanya tertentu saja. Mungkin, pengemis yang
paling dikasihani. “Tan, lihat
nenek itu kasihan sekali.” Kata sani.
“Mana?
Tanti tampak bingung yang dimaksud Sani, tiba-tiba “ O… iya itu kan yang
berkerudung selendang, memakai baju hitam kumal, tanpa alas kaki… yuk!”
“Iya
bener… kasihan nenek itu.”
Nenek
itu pun menengadahkan kedua tangannnya. Tetapi kepalanya menunduk tidak berani
menatap orang-orang yang memberinya. Mulutnya pun berucap doa bagi yang
memberinya.
Tanti
pun menyodorkan uangnya, Sani di belakangnya “ Ini Nek, semoga berguna untuk
nenek.” Nenek pun membalas dengan doa.
“Sani
terhenti, dia seperti kenal suara itu. “ Seperti suara mbah putri.” Ucapnya
dalam hati.
Tanti pun menghampirinya, “Ada apa
San?”
“Itu,
itu nenekku. Nenek pengemis itu nenekku.” Dalam hatinya berbicara seperti itu.
Tapi mulutnya tidak mau mengatakan. Temannya tidak boleh tahu.
Sani
sempat menitikkan air mata.“ San, kenapa kamu menangis? Kamu kasihan ya? Ya
sudah kamu berdoa saja supaya nenek itu diberi perlindungan oleh Allah.”
Tanti mengira Sani hanya sebatas kasihan, dia tidak
tahu kalau nenek itu adalah nenek Sani.
Tiba-tiba “ Aduh!” Sani kesakitan
ada yang menginjak kakinya.
“Makanya dek. Jangan di tengah jalan.” Kata
orang itu.
“Uh
dasar! Udah nginjak malah ngomel. Ayo
San, kita ke warung ayahmu saja,” ajak Tanti.
Sani Masih sedih,
kenapa neneknya melakukan semua ini. Sani yakin bahwa nenek itu adalah Mbah
Putri. Di rumah ia menceritakan kepada orang tuanya. Ayah dan ibunya sebelumnya
tidak percaya.
“Mungkin
kamu salah lihat San. Nenek itu mungkin mirip dengan mbah putrimu,” hibur ibu
yang sebenarnya was-was juga.
Sani
pun tetap meyakinkan bahwa yang ia lihat adalah mbah putrinya.
“Ya
sudah, biar Ibu dan Bapak besok setelah pulang dari pasar ke tempat mbah putrimu.”
Sani
mengangguk dengan lemas. Dalam hatinya mengatakan bahwa nenek itu adalah mbah
putrinya. Ia sangat sedih, “ Apa mbah putri stress memikirkan semua ini,”
pikirnya.
“Tidak.
Ya Allah hilangkanlah pikiran-pikiran negatif dalam diri hamba. Semoga Engkau
memberikan kesehatan dan perlindungan pada mbah putri ya Allah….Amiin,” doa Sani dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar