Minggu, 03 Maret 2013

CERPEN


Pada Sebuah Cermin
Oleh  : Agus Yulianto
            Mala mini aku sangat merindukan kehadiran seseorang untuk bisa ku ajak berbagi. Tapi saying, orang itu tak kunjung dating. Hati ku pun bertanya-tanya. “ Nggak seperti biasanya dia tak kasih kabar aku ?!” Perasaanku pun berkecamuk antara yang tidak akan pernah terjadi dan yang terjadi. Ku tatap sebuah cermin yang putih dan berdebu. Ku tatap dan ku tatap bayangan wajahku. Wajah kusam penuh dengan kepanikan. Dihinggapi dengan sebuah rasa kehilangan. “ Mas kenapa kamu nggak datang ?!” ku bertanya-tanya pada bayangan diriku. Senyum yang tercampur kebimbangan. Tawa yang tercampur dengan kesedihan. Kini tak bisa di elakkan dari diri ini. Kata tepat, tak pernah ada kata ingkar itulah yang menjadi prinsipnya mas Endro. Tapi kenapa ? mala mini tak ada kabar darinya. Bulan dan bintang masih terjaga didalam kehangatan malam. Sinarnya yang membentang ke khatulistiwa. Menambah keindahan dalam kesendirianku. “ Mas, aku sangat merindukanmu. Adik disini sendirian dalam kegelapan. Aku takut…Mas???” Ku terkenang akan senyum manismu, sentuhan lembut jemarimu dan kehangatan dekapanmu. Hitam manis kulitmu tapi semanis cintamu pada adikmu. Namun  hanya hitam yang kau tampakkan dari cintamu. Meskipun kau begitu keras dan dangkal . Tapi adik tetap saying mas Endro . Seteguk bir yang kau minum tak pernah membuat hati ini lelah untuk berkasih. Celotehan-celotehan yang kau katakana padaku, kuanggap hanya gutonan belaka. Aku tahu kau di buai dalam kekosongan. Pikiranmu melayang tanpa arah dan tujuan. Kata – kata kasar sering kau lontarkan padaku. Tapi ku hanya diam.
            Malam semakin larut. Denting jam berbunyi menandakan pukul dua belas malam. Tapi kau tak kunjung datang. Aku masih disini. Bbercermin diri menanatap dalam kehampaan. Karna hanya inilah satu-satunya teman berbagi beban hidupku.
            Cermin malamku, kenapa orang yang aku cintai pergi dari hidupku. Tanpa kabar. Apa salahku. Apa selama ini aku terlalu memanjakannya. Sehingga dia letih dengan semua ini. Hubungan yang telah terjalin ini memang di luar keinginan aku dengan mas Endro. Dia datang padaku dengan segenggam uang yang bagiku tak ada artinya ketimbang cinta dan ketulusannya.
            Kemanapun dia pergi. Aku yakni pada suatu malam nanti dia akan kembali dengan senyuman manisnya. Karna hidupku hanya dekat dengan kegelapan. Siang bagiku tak ada artinya. Tapi malam buatku adalah surga. Wanita malam memang pantas aku sandang. Tapi aku tak serendah itu. Karna hanya cinta dan ketulusan  yang paling berharga di dalam kehidupanku. Cermin malamku kini kau telah menjadi bagian dalam kehidupanku. Cermin malamku kini kau telah menjadi bagian dalam hidupku. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Walau dengan uang seratus  juta tak akan ku jual dari hidupku. Hanya kau satu-satunya teman dikala sepiku. Begitu pun mas Endro, separoh nyawa dalam hidupku. Dengan keganasan yang selalu membuat aku takluk dalam dekapannya. Mas Endro I Love You .Ku tunggu kedatanganmu pada malam-malamku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar