Pada Sebuah Cermin
Oleh : Agus Yulianto
Mala mini aku sangat merindukan
kehadiran seseorang untuk bisa ku ajak berbagi. Tapi saying, orang itu tak
kunjung dating. Hati ku pun bertanya-tanya. “ Nggak seperti biasanya dia tak
kasih kabar aku ?!” Perasaanku pun berkecamuk antara yang tidak akan pernah
terjadi dan yang terjadi. Ku tatap sebuah cermin yang putih dan berdebu. Ku
tatap dan ku tatap bayangan wajahku. Wajah kusam penuh dengan kepanikan. Dihinggapi
dengan sebuah rasa kehilangan. “ Mas kenapa kamu nggak datang ?!” ku
bertanya-tanya pada bayangan diriku. Senyum yang tercampur kebimbangan. Tawa
yang tercampur dengan kesedihan. Kini tak bisa di elakkan dari diri ini. Kata
tepat, tak pernah ada kata ingkar itulah yang menjadi prinsipnya mas Endro. Tapi
kenapa ? mala mini tak ada kabar darinya. Bulan dan bintang masih terjaga didalam
kehangatan malam. Sinarnya yang membentang ke khatulistiwa. Menambah keindahan
dalam kesendirianku. “ Mas, aku sangat merindukanmu. Adik disini sendirian
dalam kegelapan. Aku takut…Mas???” Ku terkenang akan senyum manismu, sentuhan
lembut jemarimu dan kehangatan dekapanmu. Hitam manis kulitmu tapi semanis
cintamu pada adikmu. Namun hanya hitam
yang kau tampakkan dari cintamu. Meskipun kau begitu keras dan dangkal . Tapi
adik tetap saying mas Endro . Seteguk bir yang kau minum tak pernah membuat
hati ini lelah untuk berkasih. Celotehan-celotehan yang kau katakana padaku,
kuanggap hanya gutonan belaka. Aku tahu kau di buai dalam kekosongan. Pikiranmu
melayang tanpa arah dan tujuan. Kata – kata kasar sering kau lontarkan padaku. Tapi
ku hanya diam.
Malam semakin larut. Denting jam
berbunyi menandakan pukul dua belas malam. Tapi kau tak kunjung datang. Aku
masih disini. Bbercermin diri menanatap dalam kehampaan. Karna hanya inilah
satu-satunya teman berbagi beban hidupku.
Cermin malamku, kenapa orang yang
aku cintai pergi dari hidupku. Tanpa kabar. Apa salahku. Apa selama ini aku
terlalu memanjakannya. Sehingga dia letih dengan semua ini. Hubungan yang telah
terjalin ini memang di luar keinginan aku dengan mas Endro. Dia datang padaku
dengan segenggam uang yang bagiku tak ada artinya ketimbang cinta dan
ketulusannya.
Kemanapun dia pergi. Aku yakni pada
suatu malam nanti dia akan kembali dengan senyuman manisnya. Karna hidupku
hanya dekat dengan kegelapan. Siang bagiku tak ada artinya. Tapi malam buatku
adalah surga. Wanita malam memang pantas aku sandang. Tapi aku tak serendah
itu. Karna hanya cinta dan ketulusan
yang paling berharga di dalam kehidupanku. Cermin malamku kini kau telah
menjadi bagian dalam kehidupanku. Cermin malamku kini kau telah menjadi bagian
dalam hidupku. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Walau dengan uang seratus juta tak akan ku jual dari hidupku. Hanya kau
satu-satunya teman dikala sepiku. Begitu pun mas Endro, separoh nyawa dalam
hidupku. Dengan keganasan yang selalu membuat aku takluk dalam dekapannya. Mas
Endro I Love You .Ku tunggu kedatanganmu pada malam-malamku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar